Sebelumnya aku tak pernah berfikir untuk kembali ke Desaku, kampung halamanku. Bagiku menjelajah negeri ini adalah impian terbesarku sebelum hidup berdampingan dengan seseorang di hari mendatang. Aku ingin merantau menapaki bumi pertiwi ini di bagian lainnya. Bertemu dengan banyak orang, mempunyai banyak teman yang mengangumkan, mengintip cakrawala berfikir mereka, menjelajah ruang-ruang yang tak tersentuh hingga ke ujung dunia sana. Betapa ingin hati ini menyelami samudra ilmu yang dalam yang belum tersentuh oleh dangkalnya hati dan pikiran. Merebahkan diri di atas taman pengalaman tak terlupakan, mencipta kreasi dan karya yang menjulang meninggi menggapai cahaya Ilahi semata.
Namun, apalah daya, hanya Allah Sang Maha Penunjuk jalan yang membawaku kembali ke sini. Di sini di tanah kelahiranku, Sape, Bima tercinta. Di sini aku menemukan berjuta makna disebalik impian untuk menjelajah dunia, mengabdikan diri untuk menjadi seorang anak yang tak ingin melihat orangtuanya sendirian menjalani hidup yang serba sulit untuk dilakoninya tanpa seorangpun anak disampingnya.
Yah, ketiga anaknya yang jauh darinya selama bertahun-tahun. Mengembara demi sebuah cita-cita. Sepertinya waktu telah begitu memisahkan keluarga kecil ini. Sang anak bungsu, dia lelaki seorang diri, mencari nafkah agar dapat menyekolahkan kedua adik perempuannya. Sampai sekali waktu, saking telah lamanya beliau mengembara, pernah kami tanya, "Kak, kapan pulang? Kami sangat mengharapkan Kakak Pulang. Setidaknya pulang untuk menikah, walaupun akan pergi lagi...". Jawaban yang prestisius pun kembali terdengar oleh kami, yakni menunggu adikku yang terakhir selesai sekolah.
Satu sisi aku sangat bangga dengan Kakakku itu, dan di sisi yang lain aku sangat sedih bila mengingatnya. Entah apa yang beliau fikirkan, entah apa yang ditunggu. Seandainya beliau pulang, pasti akan ada temannya Ibu, dan aku bisa melanjutkan mimpi-mimpiku yang tertunda.
Namun, aku tidak boleh menyesali kepulangan ini. Akan aku anggap ini bagian dari birul walidainku kepada Ibuku. Aku harus bertahan, bersabar namun tetap yakin dan berharap suatu saat akan ada masa di mana aku dapat merasakan indahnya menjelajah, lelah dan payahnya mendaki bukit ilmu yang belum sempat ku daki, namun di akhir perjalanan panjang itu disambut dengan bentangan pelangi kehidupan yang begitu indah.
***
Tentang kampung halamanku. Di sebuah Desa kecil bernama Jia, Kecamatan Sape, Kabupaten Bima, Propinsi Nusa Tenggara Barat. Di sanalah tanah kelahiranku. Desa kecil yang membentang dari arah barat ke timur di sepanjang jalan lintas pelabuhan Sape ini, memberiku begitu banyak pelajaran berharga.
Yah, salah satu perjuangan paling berharga yang dapat aku kenang sampai sekarang ialah, su'u oi (menjunjung air di atas kepala) dengan ember atau jiregen. Seluruh warga desa Jia ini sumber airnya dari pegunungan, asli murni. Pegunungan ini ada di sebelah utara desa kami. Dan perlu diketahui letak geografis desa kami tidak rata, sebagian besar dibawah tanahnya penuh dengan bebatuan gunung. Jadi ketika ingin dibor, tidak ada sumber mata air. Akhirnya, yang terjadi ialah air yang dari mata air pegunungan di tampung di masing-masing tempat penampungan. Penampungan ini berada hampir di tiap RT desa kami, dan disanalah kami harus menjunjung air tersebut untuk keperluan sehari-hari.
Dan percaya atau tidak, sampai detik ini aku masih melakoni hal itu. Secara manusiawi, aku sangat malu menjunjung air karena sudah segede' ini, dan juga pasti merasa ini tak adil dan rendah. Parahnya, mungkin ada juga terbesit dalam hati "apa gunanya sekolah jauh-jauh, sudah sarjana, kalau pulang kampung hanya menjunjung air?".
Inilah bisikkan syaithan yang sekali-sekali terngiang di telingaku. Dan aku hanya bisa menepisnya dengan " Ahh, bersyukurlah wahai diri, jadikan ini bentuk birul walidainmu terhadap orangtuamu, InsyaAllah, bersyukur dan bersabarlah, Allah pasti akan membantumu. Dan belum tentu semua anak mendapatkan kesempatan sepertimu untuk berbirul walidain kepada orangtuanya setelah mereka sekolah tinggi. Mungkin justru mereka malah jauh dari orangtuanya, atau malah menikah sebelum gaji pertamanya dicicipi oleh orangtua mereka,,,"
Allah anugerahkanlah kepadaku kesabaran dan kesyukuran itu. Aamiin Allahumma Aamiin.
***
By : Juhra Wahab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar