Tulisan ini saya awali dengan pembahasan tentang "Taubat" yang saya ambil dari sebuah majalah. Karena langkah awal dari "ingin menjadi lebih baik" bagi saya adalah bertaubat dengan sebenar-benarnya kepada Allah SWT, lalu menyesali dan berjanji tidak mengulangi perbuatan yang menurut kita adalah perbuatan maksiat atau yang dilarang oleh Allah SWT, dan berusaha menjauhi larangan-Nya dan menjalankan perintah-Nya.
Hakikat Taubat...
Penyesalan adalah keharusan di dalam taubat! Sebuah pertanda pengakuan seorang hamba akan kesalahan yang telah diperbuat, dan perasaan remuk redam yang hina di hadapan Allah, Sang Melihat seluk beluk perbuatan hamba-hamba-Nya yang bermaksiat, juga yang taat! Padahal hanya kepada-Nya semua hamba akan kembali sebab tidak ada tempat untuk berlari dan sembunyi.
Rasa sesal ini akan muncul beriringan dengan pemahaman akan besarnya pelanggaran yang telah kita lakukan. Maka, ia akan melemah jika kita menganggapnya remeh dan merasa tidak bersalah. Sebaliknya, ia akan membesar sesuai kadar kesadaran yang kita miliki tentang keburukan sebuah maksiat, meski ia tampak kecil di hadapan manusia. Sebab nilai sebuah maksiat bukan semata apa yang terlihat, namun juga perasaan yang mengiring hati kita saat melakukannya. Maka tidak ada dosa besar yang disertai taubat nasuha, dan tidak ada dosa kecil yang diiringi pengulangan.
Dan perintah dan larangan Allah adalah rahmat-Nya bagi manusia. Ia datang dari Sang Pencipta alam yang Mengetahui semua keadaan, sebagai petunjuk jalan yang terang benderang dan menjanjikan keselamatan, kebahagiaan dan keberuntungan. Ketika hati menganggapnya kecil dan sepele, ketika itulah rasa sesal akan menjauh. Rasa bersalah akan terbang sebab pemahaman akan bahaya dibalik pelanggarannya telah menghilang. Dan taubat pun menjadi terhambat.
Padahal jika kita tahu, tidak ada tindakankita yang sepi dari pembalasan Allah. Dia akan menghitung kemudian membalasnya secara adil, pahala bagi setiap bentuk ketaatan, dan siksaan bagi setiap bentuk kemaksiatan. Keadilan tanpa kezhaliman, tanpa ada pihak yang dirugikan. Hingga tidak ada yang bisa menolong diri kita selain Allah, melalui rahmat ampunan dan keridhaan-Nya.
Maka, jika taubat adalah salah satu syarat untuk meraih hal itu, kita harus takut akan taubat yang penuh cacat. Yang bisa jadi tidak pantas, tidak memenuhi standar minimal penerimaan, tidak sungguh-sungguh, hingga taubat yang salah niat.Yaitu yang dibangun di atas kepentingan dunia, kekhawatiran akan kebangkrutan, keinginan untuk menjaga nama baik, harapan meraih kedudukan, atau karena letih berbuat maksiat dan ingin beristirahat.
Taubat yang murni adalah yang lahir dari pengagungan dan pemuliaan kepada Allah, dari takut kepada Allah dan terjatuhnya nilai diri di hadapan-Nya, juga ketakutan akan terhalangnya penglihatan dari melihat wajah-Nya di negeri akhirat. Setelah itu, semuanya menjadi tidak penting sebab tidak sebanding. Atau, adakah yang bisa menandingi tauhid dalam taubat?
Dan diantara tanda-tanda kebenaran taubat adalah kita menjadi lebih baik dari sebelumnya, selalu merasa tidak aman dengan kualitas taubat kita hingga ingin selalu melazimi dan memperbaikinya, bersemangat melakukan amal shaleh tanpa lelah, berpaling dari maksiat sekuat mungkin, serta mengubur kenangan manisnya dosa yang ternyata hanya fatamorgana.
Inilah taubat yang sesungguhnya! Wallahu a'lam.
Sumber : Majalah Ar-Risalah Hal 64/November 2009

Tidak ada komentar:
Posting Komentar